Langsung ke konten utama

Praktikum ke-1


Kamis, 28 September 2017 – Hari ini merupaka hari pertama kelas saya melaksanakan praktikum bahan bangunan laut di laboratorium rekayasa struktur CIBE lantai B1. Dilaksanakan pada pukul 13.00 - 15.00 dengan bahan uji kelayakan dan parameter bahan pembuat beton yang melipuri 6 modul yaitu:
1.      Pemeriksaan Berat Volume Agregat
2.      Analisis Saringan Agregat Halus dan Kasar
3.      Pemeriksaaan Kadar Organik dalam Agregat Halus
4.      Pemeriksaan Kadar Lumpur dalam Agregat Halus
5.      Pemeriksaan Kadar Air Agregat
6.      Berat Jenis dan Penyerapan Agregat
Foto Kelompok Praktikum BBL
Pemeriksaan Kadar Air Agregat

Tujuan
Pemeriksaan ini dilakukan untuk menentukan besarnya kadar air yang terkandung dalam agregat dengan cara pengeringan. Kadar air agregat adalah perbandingan antara berat agregat dalam kondisi kering terhadap berat semula yang dinyatakan dalam persen. Nilai kadar air ini digunakan untuk koreksi tahan air untuk adukan beton yang disesuaikan dengan kondisi agregat di lapangan.

3.1.2        Alat dan Bahan
1.      Timbangan dengan ketelitian 0,1% dari berat contoh
2.      Oven
3.      Talam logam tahan karat dengan kapasitas besar bagi tempat pengeringan benda uji
4.      Contoh agregat kasar dan agregat halus masing-masing 500 gram

Prosedur
1.      Timbang dan catat berat talam (W1)
2.      Masukkan benda uji kedalam talam, kemudian timbang ulang (W2)
3.      Hitung berat benda uji W3=W2-W1
4.      Keringkan contoh benda uji bersama talam dalam oven pada suhu (110 ± 5)oC hingga beratnya tetap.
5.      Timbang lagi dan catat beratnya W4
6.      Hitung berat benda uji yang sudah kering W5=W4-W1

Analisis dan Hasil
 Tabel Pemeriksaan Kadar Air Agregat
Berikut adalah hasil dari pemeriksaan kadar air agregat halus dan agregat kasar berdasarkan pada observasi 1 dan obsaervasi 2.
Tabel Observasi Kadar Air
Observasi I (Kelompok A)
Agregat Halus
Agregat Kasar
A.  Berat wadah
149 gram
  149 gram
B. Berat wadah + benda uji
1643 gram
2267 gram
C.  Berat benda uji (B-A)
1494 gram
2118 gram
D. Berat benda uji kering
1334 gram
1972 gram
Kadar air = (C-D)/DX100%
11,994 % [KA1]
7,403 % [KA1]
Observasi I (Kelompok C)
A.  Berat wadah
148 gram
161 gram
B. Berat wadah + benda uji
1280  gram
1280  gram
C.  Berat benda uji (B-A)
1132 gram
1081 gram
D. Berat benda uji kering
1020 gram
1019 gram
Kadar air = (C-D)/DX100%
10,980 % [KA2]
5,735 % [KA2]
Kadar air rata – rata (KA1+KA2)/2
11,487 %
6,569 %

Analisis
            Kadar air pada agregat kasar sebesar 6,569% dan pada agregat halus 11,487%. Hal ini dikarenakan agregat halus sebelumnya ditempatkan di tempat yang lembab sedangkan agregat kasar ditempatkan di tempat yang kering.
Dari percobaan ini, didapatkan bahwa kadar air pada agregat kasar sebesar 6,2482 %. Selain itu, didapatkan pula  kadar air pada agregat halus sebesar 1,755 %. Dari data tersebut didapatkan bahwa kadar air agregat kasar lebih besar dari pada kadar air agregat haus. Hal ini disebabkan oleh pori-pori agregat kasar cenderung lebih besar daripada pori-pori pada agregat halus.
   Selain itu, hal ini juga bisa disebabkan oleh kadar air awal agregat. Pada saat diambil, agregat terletak pada tempat yang terpapar sinar matahari secara langsung. Hal ini, memungkinkan terjadinya pengeringan. Karena perbedaan luas permukaan agregat kasar dan halus sehingga terjadi perbedaan laju penguapan dimana penguapan agregat halus lebih besar. Karena hal tersebut, kadar air awal agregat halus sudah lebih kecil daripada kadar agregat kasar. 

Gambar Saat agregar dikeringkan ke dalam oven

Gambar Agregat halus yang ditimbang

Gambar Agregat kasar yang ditimbang


Pemeriksaan Berat Volume Agregat

Tujuan
Menghitung berat volume agregat halus dan kasar.

Alat dan Bahan
1.      Timbangan dengan ketelitian 0,1%
2.      Talam kapasitas cukup besar untuk mengeringkan contoh agregat
3.      Tongkat pemadat diameter 15 mm, panjang 60 cm yang ujungnya bulat, terbuat dari baja tahan karat
4.      Mistar perata
5.      Sekop
6.      Wadah baja yang cukup berbentuk silinder dengan alat pemegang sesuai dengan tabel berikut
7.      Agregat halus dan kasar.:

Tabel Spesifikasi Wadah Baja yang Digunakan Dalam Praktikum
Kapasitas
Diameter
Tinggi
Tebal Wadah
Ukuran Butir Maksimum Agregat (mm)
Dasar
Sisi
2,832
152,4±2,5
154,9±2,5
5,08
2,54
12,70
9,345
203,2±2,5
292,1±2,5
5,08
2,54
25,40
14,158
254,0±2,5
279,4±2,5
5,08
3,00
38,10
28,136
355,6±2,5
284,4±2,5
5,08
3,00
101,60

Prosedur Percobaan
1.      Masukkan agregat ke dalam talam sekurang-kurangnya sebanyak kapasitas wadah sesuai dengan Tabel di atas. Keringkan dengan oven, suhu pada oven (110±5)oC sampai berat menjadi tetap untuk digunakan sebagai benda uji.
2.      Berat isi lepas
a.       Timbang dan catatlah berat wadah
b.      Masukkan benda uji dengan hati-hati agar tidak terjadi pemisahan butir-butir dari ketinggian 5 cm di atas wadah dengan menggunakan sendok atau sekop sampai penuh
c.       Ratakan permukaan benda uji dengan menggunakan mistar perata
d.      Timbang dan catatlah berat wadah beserta benda uji (W2)
e.       Hitunglah berat benda uji (W3 = W2 - W1)
3.      Berat isi agregat ukuran butir maksimum 38,1 mm (1,5”) dengan cara penusukan
a.       Timbang dan catat berat wadah (W1)
b.      Isilah wadah dengan benda uji dalam tiga lapis yang sama tebal. Setiap lapis dipadatkan dengan tongkat pemadat yang ditusukkan sebanyak 25 kali secara merata
c.       Ratakan permukaan benda uji dengan menggunakan mistar perata
d.      Timbang dan catatlah berat wadah beserta benda uji (W2)
e.       Hitunglah berat benda uji (W3 = W2 - W1)
4.      Berat isi pada agregat ukuran butir antara 38,1 mm (1,5”) sampai 101,1 mm (4”) dengan cara penggoyangan
a.       Timbang dan catatlah berat wadah (W2)
b.      Isilah wadah dengan benda uji dalam tiga lapis yang sama tebal
c.       Padatkan setiap lapis dengan cara menggoyang-goyangkan wadah dengan prosedur sebagai berikut :
·         Letakkan wadah di atas tempat yang kokoh dan datar, angkatlah salah satu sisinya kira-kira setinggi 5 cm kemudian lepaskan
·         Ulangi hal ini pada sisi yang berlawanan. Padatkan lapisan sebanyak 25 kali untuk setiap sisi
d.      Ratakan permukaan benda uji dengan menggunakan mistar perata
e.       Timbang dan catatlah berat wadah beserta berat benda uji (W2)
f.        Hitunglah berat benda uji (W3 = W2 - W1)

Hasil Percobaan
1.      Agregat Halus

Tabel Data Pemeriksaan Berat Volume Agregat Halus
1
Padat
Gembur
A. A. Volume wadah
2,781 Liter
2,781 Liter
B. Berat wadah
2,676 kg
2,676 kg
C. Berat wadah + benda uji
 7,52 kg
 7,08 kg
D. Berat benda uji
(C – B)
 4,85 kg
 4,404 kg
Berat Volume
 1,742 kg/Liter
 1,584 kg/Liter

2.      Agregat Kasar

Tabel Data Pemeriksaan Berat Volume Agregat Kasar
2
Padat
Gembur
A. A. Volume wadah
2,781 Liter
2,781 Liter
B. Berat wadah
2,676 kg
2,676 kg
C. Berat wadah + benda uji
6,76 kg
6,16 kg
D. Berat benda uji
(C – B)
4,084 kg
3,484 kg
Berat Volume
1,469 kg/Liter
1,253 kg/Liter




Berat Volume Rata-rata
Kondisi Padat =



Kondisi Gembur =




Analisis
Berdasarkan data pemeriksaan agregat, diperoleh bahwa agregat padat memiliki berat volume yang lebih besar dibandingkan dengan agregat yang gembur. Hal ini terjadi karena adanya perbedaan prilaku antara agregat padat dan gembur, pada agregat yang dipadatkan diberikan tumbukan sebanyak 25 kali dengan menggunakan mistar pada setiap 1/3 lapisan agregat, penumbukan ini menyebabkan jarak antara agregat semakin rapat dan celah antar agregat berkurang sehingga lebih banyak partikel agregat yang memenuhi wadah, maka dengan volume wadah yang sama agregat yang dipadatkan akan memiliki berat jenis yang lebih besar dibandingkan dengan agregat gembur yang tidak diberikan perlakuan khusus apapun. 



Analisis Specific Gravity dan Penyerapan Agregat Halus

Tujuan
1.      Menentukan angka specific gravity agregat halus.
2.      Menentukan nilai bulk specific gravity agregat halus.
3.      Menentukan nilai bulk specific gravity agregat halus SSD.
4.      Menentukan prosentase absorpsi agregat halus.

Alat dan Bahan
 Alat:
  1. Timbangan dengan ketelitian 0,1 gram atau kurang yang mempunyai kapasitas minimum sebesar 1000 gram atau lebih
  2. Piknometer dengan kapasitas 500 gram 
  3. Cetakan kerucut pasir 
  4. Tongkat pemadat dari logam untuk cetakan kerucut pasir

Benda Uji:
Berat contoh agregat halus sebanyak 1000 gram. Contoh diperoleh dari bahan yang diproses melalui alat pemisah atau perempatan

Prosedur Percobaan
1.       Agregat halus yang jenuh air dikeringkan sampai diperoleh kondisi kering dengan indikasi contoh tercurah dengan baik
2.       Sebagian dari contoh dimasukan ke dalam metal sand cone mold. Benda uji dipadatkan dengan tongkat pemadat (tamper). Jumlah tumbukan adalah sebanyak 25 kali. Kondisi SSD diperoleh, jika cetakan diangkat, butir-butir pasir longsor/runtuh
3.       Contoh agregat halus sebesar 500 gram dimasukan ke dalam piknometer. Kemudian piknometer diisi dengan air sampai 90% penuh. Bebaskan gelembung – gelembung udara dengan menggoyang-goyangkan piknometer, redamlah piknometer dengan suhu air (73,4 ± 3) °F selama 24 jam. Timbang berat piknometer yang berisi contoh dengan air.
4.       Timbanglah berat piknometer yang berisi air sesuai dengan kapasitas kalibrasi pada temperatur (73,4 ± 3) °F dengan ketelitian 0,1 gram.
5.        
Hasil Pengamatan dan Perhitungan
Observasi I
A. Berat Piknometer
170 gr
B .Berat Contoh Kondisi SSD
500 gr
C. Berat Piknometer + air + contoh SSD
965 gr
D. Berat Piknometer + air
668 gr
E. Berat Contoh Kering (wadah 146 gr)
454 gr
Apparent Specific Gravity
E/(E+D-C)
1,879
Bulk S.G. Kondisi kering
E/(B+D-C)
3,13
Bulk S.G. Kondisi SSD
B/(B+D-C)
2,46
Persentase Absorpsi
(B-E)/E x 100%
10,13%
Observasi II
A. Berat Piknometer
171 gr
B .Berat Contoh Kondisi SSD
500 gr
C. Berat Piknometer + air + contoh SSD
954 gr
D. Berat Piknometer + air
669 gr
E. Berat Contoh Kering
456 gr
Apparent Specific Gravity
E/(E+D-C)
2,67 
Bulk S.G. Kondisi kering
E/(B+D-C)
2,12
Bulk S.G. Kondisi SSD
B/(B+D-C)
2,33 
Persentase Absorpsi
(B-E)/E x 100%
9,65 %
Rata-Rata
Apparent Specific Gravity
2,27
Bulk S.G. Kondisi kering
2,625
Bulk S.G. Kondisi SSD
2,395
Persentase Absorpsi
9,89 %

Analisis
Dengan mengambil nilai rata-rata dari kedua pengamatan, didapat nilai bulk specific gravity/ berat jenis saat SSD (saat di mana celah di dalam agregat telah terisi air secara jenuh namun kering di permukaan) sebesar 2,33. Nilai ini menunjukkan perbandingan antara berat agregat kering permukaan jenuh dan berat air suling yang isinya sama dengan isi agregat dalam keadaan jenuh pada suhu tertentu yang kemudian dipakai dalam perhitungan mix design untuk menentukan volume agregat kasar.

3.3.6        Kesimpulan
1.      Apparent Specific Gravity = 2,27
2.      Bulk S.G. Kondisi kering = 2,625
3.      Bulk S.G. Kondisi SSD = 2,395
4.      Persentase Absorpsi = 9,89 %



Analisis Specific Gravity dan Penyerapan Agregat Kasar

Tujuan
1.      Menentukan specific gravity agregat kasar.
2.      Menentukan nilai bulk specific gravity agregat kasar.
3.      Menentukan nilai bulk specific gravity SSD agregat kasar.
4.      Menentukan prosentase absorpsi agregat kasar

Alat dan Bahan
Alat:
1.      Timbangan dengan ketelitian 0,5 gram yang mempunyai kapasitas 5 kg
2.      Keranjang besi diameter 203,2 mm (8”) dan tinggi 63,5 mm (2,5”)
3.      Alat penggantung keranjang
4.      Handuk atau kain pel
Benda Uji:
Berat contoh agregat disiapkan sebanyak 11 liter dalam keadaan kering muka (SSD = Surface Saturated Dry). Contoh diperoleh dari bahan yang diproses melalui alat pemisah atau cara perempatan. Butiran agregat lolos saringan No. 4 tidak dapat digunakan sebagai benda uji.
3.4.3 Prosedur Percobaan:
1)      Benda uji direndam selama 24 jam
2)      Benda uji dikeringkan permukaannya (kondisi SSD) dengan menggunakan handuk pada butiran
3)      Timbang contoh. Hitung berat kondisi SSD = A
4)      Contoh benda uji dimasukan ke keranjang dan direndam kembali di dalam air. Temperatur air dijaga (73,4 ± 3) °F, dan kemudian ditimbang, setelah di keranjang digoyang-goyangkan di dalam air untuk melepaskan udara yang terperangkap. Hitung berat contoh kondisi jenuh =B
5)      Contoh dikeringkan pada temperatur (212 – 130) °F. Setelah didinginkan kemudian ditimbang. Hitung berat contoh kondisi kering = C
6)       
Hasil Pengamatan dan Perhitungan
Observasi I
A.    Berat contoh SSD
2500 gr
B.     Berat contoh dalam air
1485 gr
C.     Berat contoh kering udara
2379 gr
Apparent Specific Gravity
C/(C-B)
2.66
Bulk S.G. Kondisi Kering
C/(A-B)
2.34
Bulk S.G. Kondisi SSD
A/(A-B)
2.46
Prosentase absorpsi air
(A-C)/C x 100%
5.08 %

Observasi II
A.    Berat contoh SSD
3000 gr
B.     Berat contoh dalam air
1904 gr
C.     Berat contoh kering udara
2945 gr
Apparent Specific Gravity
C/(C-B)
2.829
Bulk S.G. Kondisi Kering
C/(A-B)
2.687
Bulk S.G. Kondisi SSD
A/(A-B)
2.7372
Prosentase absorpsi air
(A-C)/C x 100%
1.8675 %





Rata-Rata
Apparent Specific Gravity
C/(C-B)
2.7445
Bulk S.G. Kondisi Kering
C/(A-B)
2.5153
Bulk S.G. Kondisi SSD
A/(A-B)
2.5986
Prosentase absorpsi air
(A-C)/C x 100%
3.47 %

Analisis
Dengan mengambil nilai rata-rata dari kedua pengamatan, didapat nilai bulk specific gravity/ berat jenis saat SSD (saat di mana celah di dalam agregat telah terisi air secara jenuh namun kering di permukaan) sebesar 2.8956. Nilai ini menunjukkan perbandingan antara berat agregat kering permukaan jenuh dan berat air suling yang isinya sama dengan isi agregat dalam keadaan jenuh pada suhu tertentu yang kemudian dipakai dalam perhitungan mix design untuk menentukan volume agregat halus.
3.4.6        Kesimpulan
1)      Apparent Specific Gravity = 2.7445
2)      Bulk S.G. Kondisi kering = 2.5153
3)      Bulk S.G. Kondisi SSD = 2.5986
4)      Persentase Absorpsi = 3.47 %



Analisis Saringan Agregat Halus

Tujuan Percobaan
Menentukan distribusi ukuran partikel dari agregat halus 

Alat dan Bahan
Alat:
1.      Timbangan dan neraca ketelitian 0,2%
2.      Satu set saringan
3.      Oven (110 ± 5)°C
4.      Alat pemisah (spliter)sample
5.      Talam


Gambar Saringan Agregat Halus.

Bahan:
Benda uji diperoleh dari alat pemisah contoh atau dengan cara penempatan. Berat dari contoh disesuaikan dengan ukuran maksimum diameter agregat halus
 yang digunakan pada tabel perangkat saringan.                               


Gambar Timbangan, Neraca, dan 500g Agregat Halus.


Prosedur Pemeriksaan
1.      Keringkan sampel agregat.
2.      Timbang beban agregat.
3.      Persiapkan saringan yang akan digunakan.
4.      Goyangkan saringan dengan tangan disaat agregat dituang ke saringan.
5.      Hitung berat agregat yang tertahan pada masing-masing saringan.
6.      Catat berat yang tertahan.

Perhitungan
                                    Tabel Analisis Saringan Agregat Halus

Diameter Saringan (mm)
Berat Tertahan (g)
Persentase Tertahan
Berat Tertahan Kumulatif (g)
Persentase Tertahan Kumulatif %
Persentase Lolos Kumulatif
SPEC ASTM C33-90
9.5
0
0
0
0
100
100
4.75
0
0
0
0
100
95-100
2.36
73
14.7
73
15
85
80-100
1.18
111
22.4
184
37
63
50-85
0.6
101
20.4
285
58
42
25-60
0.3
75
15.2
360
73
27
10-30 
0.15
83
16.8
443
89
11
 2-10
0.075
35
7.1
478
97
3

PAN
17
3.4
495
100
0

Modulus Kehalusan : 3,68




















Grafik 3.5.1 Analisis Agregat Halus

Analisis saringan dilakukan dengan tujuan untuk menentukan apakah agregat halus tersebut layak atau tidak untuk digunakan. Berdasarkan grafik analisis saringan agregat halus didapatkan hasil bahwa sebagian besar agregat halus berada diantara batas atas dan batas bawah standar ASTM C33-90 sehingga secara keseluruhan agregat halus layak untuk digunakan.



Analisis Saringan Agregat Kasar

Tujuan Percobaan
Menentukan distribusi ukuran partikel dari agregat kasar

Alat dan Bahan
Alat:
1.      Timbangan dan neraca ketelitian 0,1%
2.      Satu set saringan
3.      Oven
4.      Alat pemisah
5.      Talam

Gambar Saringan Agregat Kasar.

Bahan:
Benda uji diperoleh dari alat pemisah contoh atau dengan cara penempatan. Berat dari contoh disesuaikan dengan ukuran maksimum diameter agregat kasar yang digunakan pada tabel perangkat saringan.


Gambar Timbangan, Neraca, dan 2500g Agregat Kasar.

Prosedur Percobaan
1.      Keringkan sampel agregat.
2.      Timbang beban agregat.
3.      Persiapkan saringan yang akan digunakan.
4.      Goyangkan saringan dengan tangan disaat agregat dituang ke saringan.
5.      Hitung berat agregat yang tertahan pada masing-masing saringan.
6.      Catat berat yang tertahan.

Perhitungan
Tabel Analisis Saringan Agregat Kasar
Diameter Saringan (mm)
Berat Tertahan (g)
Persentase Tertahan
Berat Tertahan Kumulatif (g)
Persentase Tertahan Kumulatif %
Persentase Lolos Kumulatif
SPEC ASTM C33-90
25.00
0
0
0
0
100
100
19.00
482
19
482
19
81
90-100
9.50
1845
74
2327
93
7
20-55
4,75
170
7
2497
100
0
0-10
2,38
0
0
2497
100
0
0-5
Modulus Kehalusan : 3.12



3.6.5 Analisis Data

Grafik 3.5.2 Analisis Agregat Kasar

Analisis saringan dilakukan dengan tujuan untuk menentukan apakah agregat kasar layak atau tidak untuk digunakan. Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan didapatkan hasil pada grafik analisis saringan agregat kasar berada diluar batas atas dan batas bawah standar ASTM C33-90 sehingga agregat kasar tidak layak untuk digunakan.
Kondisi tidak ideal ini dapat terjadi karena ada banyak kemungkinan error yang terjadi terutama saat teknis menyaring (mengguncang) yang kurang intens dan merata, kemudian karena ada agregat yang seharusnya lolos, tetapi menjadi tidak lolos karena tertutup dengan agregat kasar lainnya. Untuk mendapatkan kondisi ideal, yang harus dilakukan adalah pada pengguncangan atau penyaringan, yaitu kegiatan penyaringan harus dilakukan dengan merata dan dengan tepat.



Pemeriksaaan Kadar Lumpur

Tujuan Percobaan
Menentukan besarnya persentase kadar lumpur dalam agregat halus yang digunakan sebagai campuran beton.

Alat dan Bahan
Alat
1.     Gelas Ukur
2.     Alat Pengaduk 


                                                     Gambar Lumpur dalam gelas ukur


Bahan
Sampel agregat halus secukupnya dalam kondisi lapangan dengan bahan pelarut biasa.

Prosedur Pemeriksaan
1.    Contoh benda uji dimasukkan kedalam gelas ukurTambahkan air pada gelas ukur gunamelarutkan Lumpur
2.    Gelas ukur dikocok untuk mencuci agregat halus dari lumpur
3.    Simpan gelas pada tempat yang datar dan dibiarkan lumpur mengendap setelah 24 jam
4.    Ukur tinggi lumpur (V2) dan tinggi pasir (V1)
    
Perhitungan
 Tinggi total      : 188 mm
 Tinggi lumpur : 6  mm

Analisis Data
         Berdasarkan hasil percobaan kadar lumpur dalam agregat halus adalah 3.19%. Artinya agregat ini baik bagi mix design beton. Karena syarat untuk dapat menghasilkan beton yang baik adalah kadar lumpur <5%.




Pemeriksaan Zat Organik dalam Agregat Halus

Tujuan Percobaan
Kadar organik adalah bahan- bahan yang terdapat didalam pasir dan menimbulkan efek kerugian terhadap suatu mortar atau beton. Pemeriksaan zat organik pada agregat halus dimaksudkan untuk menentukan adanya bahan organik dalam agregat halus yang akan digunakan pada campuran beton. Kandungan bahan organik yang melebihi batas dapat mempengaruhi mutu beton yang direncanakan.

Alat dan Bahan
Alat:
1.      Botol gelas tidak berwarna dengan volume sekitar 350 mL yang mempunyai tutup Dari karet gabus atau lainnya yang tidak larut dalam NaOH
2.      Standard warna (Organik plate)
3.      Larutan NaOH 3%

Bahan:
Contoh pasir dengan volume 115 mL (1/3 volume botol)

Gambar Pasir didalam 1/3 botol untuk menentukan kadar organik

Prosedur Percobaan
1.      115 mL pasir dimasukkan ke dalam botol tembus pandang (kurang lebih 1/3 isi botol)
2.      Larutan NaOH 3% ditambahkan. Setelah dikocok, isinya harus mencapai kira-kira ¾ volume
Botol


Gambar Penambahan larutan NaOH

3.      Botol tersebut ditutup dan dikocok hingga lumpur yang menempel pada agregat Nampak   
terpisah dan dibiarkan selama 24 jam agar lumpur tersebut mengendap
4.      Setelah 24 jam, warna cairan yang terlihat dibandingkan dengan standar warna no.3   pada
organic plate (apakah lebih tua atau lebih muda)

Laporan Hasil Pengamatan
Warna air di atas pasir yang terdapat di dalam botol berubah menjadi Berwarna Putih keruh. jika dibandingkan dengan organic plate maka sesuai dengan warna No. 2 pada organic plate.


Gambar Warna air di atas pasir disesuaikan dengan organic plate


Analisis Data
Berdasarkan hasil pengamatan, diperoleh hasil percobaan berupa warna larutan yang putih keruh (No. 2). Warna larutan yang tidak menunjukkan warna hitam mengindikasikan bahwa pasir memiliki kandungan bahan organik dalam batas wajar. Secara Kuantitatif batas wajar yang diperbolehkan adalah warna No. 3 pada organic plate. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa agregat mengandug zat organik dalam batas wajar sehingga agregat layak digunakan untuk mix design.
















Komentar

Postingan populer dari blog ini

BORMA DAGO

Borma Dago Swalayan Serbaguna yang berlokasi di Jalan Ir. Juanda no.348 ini merupakan salah satu tempat yang terkenal di kalangan mahasiswa dan penduduk Bandung. Lokasi yang strategis dan menyediakan barang yang amat lengkap membuatnya diminati masyarakat. Dari segi konstruksi, bangunan tempat Borma beroperasi cukup besar dan kokoh, bangunan tiga lantai ini 40% terdiri dari baja ringan meliputi rangka atap, tiang-tiang penyangga, dan sebagian interior depan, kemudian 50% beton yang meliputi tembok dan tiang-tiang dalam, lalu 10% bahan bangunan lainnya seperti keramik, kaca dan kayu. Baja ringan dan beton sebagai bahan bangunan sering kita jumpai diberbagai bangunan, tak hanya di Borma Dago. Berikut proses pembuatan dari baja ringan dan beton: Bahan Dasar Dan Metode Pembentukan Baja Ringan yang Super Kuat A. Bahan Dasar Baja Ringan Bahan dasar yang digunakan untuk pembuatan baja ringan adalahCarbon Steel, Carbon Steel adalah baja yang terdiri d...

Korosi pada Beton Bertulang

Korosi pada Beton Bertulang Baja tulangan di dalam beton   Baja tulangan di dalam beton berada dalam lingkungan bersifat basa kuat dengan nilai ± pH  12,5. Keadaan ini disebabkan karena beton mengandung 20 – 30 persen Kalsium Dihidrosida (Ca(OH)2), sebagian berupa larutan jenuh Ca(OH)2 di dalam beton, sebagian mengendap berupa kristal Ca(OH)2 di dalam beton. Lingkungan basa kuat ini memberikan perlindungan terhadap baja tulangan di dalam beton dari serangan korosi karena baja tulangan di dalam lingkungan basa kuat menjadi pasif.   Korosi baja tulangan   Korosi baja tulangan adalah reaksi kimia atau elektro kimia antara baja tulangan dengan lingkungannya.  Secara umum reaksi tersebut dapat dinyatakan sebagai berikut :   Reaksi Anodik :   Fe → Fe ++ + 2e -    H2O → H+ + OH - Fe ++ + OH - → Fe(OH) 2   4Fe(OH) 2   +  O 2    +   H 2 O →  4 Fe(OH) 3 [karat]    ...