Kamis, 28 September 2017 – Hari ini merupaka hari pertama kelas saya melaksanakan praktikum bahan bangunan laut di laboratorium rekayasa struktur CIBE lantai B1. Dilaksanakan pada pukul 13.00 - 15.00 dengan bahan uji kelayakan dan parameter bahan pembuat beton yang melipuri 6 modul yaitu:
1. Pemeriksaan Berat Volume Agregat
2. Analisis Saringan Agregat Halus dan Kasar
3. Pemeriksaaan Kadar Organik dalam Agregat Halus
4. Pemeriksaan Kadar Lumpur dalam Agregat Halus
5. Pemeriksaan Kadar Air Agregat
6. Berat Jenis dan Penyerapan Agregat
Pemeriksaan Kadar Air Agregat
Tujuan
Pemeriksaan ini dilakukan untuk menentukan besarnya kadar air yang
terkandung dalam agregat dengan cara pengeringan. Kadar air agregat adalah
perbandingan antara berat agregat dalam kondisi kering terhadap berat semula
yang dinyatakan dalam persen. Nilai kadar air ini digunakan untuk koreksi tahan
air untuk adukan beton yang disesuaikan dengan kondisi agregat di lapangan.
3.1.2
Alat dan Bahan
1. Timbangan dengan ketelitian 0,1% dari berat contoh
2. Oven
3. Talam logam tahan karat dengan kapasitas besar bagi
tempat pengeringan benda uji
4. Contoh agregat kasar dan agregat halus masing-masing
500 gram
Prosedur
1. Timbang dan catat berat talam (W1)
2. Masukkan benda uji kedalam talam, kemudian timbang
ulang (W2)
3. Hitung berat benda uji W3=W2-W1
4. Keringkan contoh benda uji bersama talam dalam oven
pada suhu (110 ± 5)oC hingga beratnya tetap.
5. Timbang lagi dan catat beratnya W4
6. Hitung berat benda uji yang sudah kering W5=W4-W1
Analisis dan Hasil
Tabel Pemeriksaan Kadar Air Agregat
Berikut
adalah hasil dari pemeriksaan kadar air agregat halus dan agregat kasar
berdasarkan pada observasi 1 dan obsaervasi 2.
Tabel
Observasi Kadar Air
Observasi I
(Kelompok A)
|
Agregat Halus
|
Agregat Kasar
|
A. Berat
wadah
|
149 gram
|
149 gram
|
B. Berat wadah +
benda uji
|
1643 gram
|
2267 gram
|
C. Berat
benda uji (B-A)
|
1494 gram
|
2118 gram
|
D. Berat benda uji
kering
|
1334 gram
|
1972 gram
|
Kadar air =
(C-D)/DX100%
|
11,994 % [KA1]
|
7,403 % [KA1]
|
Observasi I
(Kelompok C)
|
||
A. Berat
wadah
|
148 gram
|
161 gram
|
B. Berat wadah +
benda uji
|
1280 gram
|
1280 gram
|
C. Berat
benda uji (B-A)
|
1132 gram
|
1081 gram
|
D. Berat benda uji
kering
|
1020 gram
|
1019 gram
|
Kadar air =
(C-D)/DX100%
|
10,980 % [KA2]
|
5,735 % [KA2]
|
Kadar air rata – rata
(KA1+KA2)/2
|
11,487 %
|
6,569 %
|
Analisis
Kadar air pada agregat kasar sebesar 6,569% dan pada
agregat halus 11,487%. Hal ini dikarenakan agregat halus sebelumnya ditempatkan
di tempat yang lembab sedangkan agregat kasar ditempatkan di tempat yang
kering.
Dari percobaan ini, didapatkan bahwa kadar air pada agregat kasar sebesar
6,2482 %. Selain itu, didapatkan pula kadar air pada agregat halus
sebesar 1,755 %. Dari data tersebut didapatkan bahwa kadar air agregat kasar
lebih besar dari pada kadar air agregat haus. Hal ini disebabkan oleh pori-pori
agregat kasar cenderung lebih besar daripada pori-pori pada agregat halus.
Selain itu, hal ini juga bisa disebabkan oleh kadar air awal
agregat. Pada saat diambil, agregat terletak pada tempat yang terpapar sinar
matahari secara langsung. Hal ini, memungkinkan terjadinya pengeringan. Karena
perbedaan luas permukaan agregat kasar dan halus sehingga terjadi perbedaan
laju penguapan dimana penguapan agregat halus lebih besar. Karena hal tersebut,
kadar air awal agregat halus sudah lebih kecil daripada kadar agregat
kasar.
Gambar Saat agregar dikeringkan ke dalam oven
Gambar Agregat halus yang ditimbang
Gambar Agregat kasar yang ditimbang
Pemeriksaan Berat Volume Agregat
Tujuan
Menghitung berat
volume agregat halus dan kasar.
Alat dan
Bahan
1.
Timbangan dengan
ketelitian 0,1%
2.
Talam kapasitas cukup
besar untuk mengeringkan contoh agregat
3.
Tongkat pemadat
diameter 15 mm, panjang 60 cm yang ujungnya bulat, terbuat dari baja tahan
karat
4.
Mistar perata
5.
Sekop
6.
Wadah baja yang cukup
berbentuk silinder dengan alat pemegang sesuai dengan tabel berikut
7.
Agregat halus dan
kasar.:
Tabel Spesifikasi Wadah Baja yang Digunakan Dalam Praktikum
Kapasitas
|
Diameter
|
Tinggi
|
Tebal Wadah
|
Ukuran Butir
Maksimum Agregat (mm)
|
|
Dasar
|
Sisi
|
||||
2,832
|
152,4±2,5
|
154,9±2,5
|
5,08
|
2,54
|
12,70
|
9,345
|
203,2±2,5
|
292,1±2,5
|
5,08
|
2,54
|
25,40
|
14,158
|
254,0±2,5
|
279,4±2,5
|
5,08
|
3,00
|
38,10
|
28,136
|
355,6±2,5
|
284,4±2,5
|
5,08
|
3,00
|
101,60
|
Prosedur
Percobaan
1.
Masukkan agregat ke
dalam talam sekurang-kurangnya sebanyak kapasitas wadah sesuai dengan Tabel di
atas. Keringkan dengan oven, suhu pada oven (110±5)oC sampai berat
menjadi tetap untuk digunakan sebagai benda uji.
2.
Berat isi lepas
a. Timbang dan catatlah berat wadah
b. Masukkan benda uji dengan hati-hati agar tidak terjadi
pemisahan butir-butir dari ketinggian 5 cm di atas wadah dengan menggunakan
sendok atau sekop sampai penuh
c. Ratakan permukaan benda uji dengan menggunakan mistar
perata
d. Timbang dan catatlah berat wadah beserta benda uji (W2)
e. Hitunglah berat benda uji (W3 = W2 -
W1)
3.
Berat isi agregat
ukuran butir maksimum 38,1 mm (1,5”) dengan cara penusukan
a. Timbang dan catat berat wadah (W1)
b. Isilah wadah dengan benda uji dalam tiga lapis yang
sama tebal. Setiap lapis dipadatkan dengan tongkat pemadat yang ditusukkan
sebanyak 25 kali secara merata
c. Ratakan permukaan benda uji dengan menggunakan mistar
perata
d. Timbang dan catatlah berat wadah beserta benda uji (W2)
e. Hitunglah berat benda uji (W3 = W2 -
W1)
4.
Berat isi pada
agregat ukuran butir antara 38,1 mm (1,5”) sampai 101,1 mm (4”) dengan cara
penggoyangan
a. Timbang dan catatlah berat wadah (W2)
b. Isilah wadah dengan benda uji dalam tiga lapis yang
sama tebal
c. Padatkan setiap lapis dengan cara menggoyang-goyangkan
wadah dengan prosedur sebagai berikut :
·
Letakkan wadah di
atas tempat yang kokoh dan datar, angkatlah salah satu sisinya kira-kira
setinggi 5 cm kemudian lepaskan
·
Ulangi hal ini pada
sisi yang berlawanan. Padatkan lapisan sebanyak 25 kali untuk setiap sisi
d. Ratakan permukaan benda uji dengan menggunakan mistar
perata
e. Timbang dan catatlah berat wadah beserta berat benda
uji (W2)
f.
Hitunglah berat benda
uji (W3 = W2 - W1)
Hasil
Percobaan
1.
Agregat Halus
Tabel Data Pemeriksaan Berat Volume Agregat Halus
1
|
Padat
|
Gembur
|
A. A.
Volume wadah
|
2,781 Liter
|
2,781 Liter
|
B. Berat wadah
|
2,676 kg
|
2,676 kg
|
C. Berat wadah +
benda uji
|
7,52 kg
|
7,08 kg
|
D. Berat benda uji
(C – B)
|
4,85 kg
|
4,404 kg
|
Berat Volume
|
1,742 kg/Liter
|
1,584 kg/Liter
|
2.
Agregat Kasar
Tabel Data Pemeriksaan Berat Volume Agregat Kasar
2
|
Padat
|
Gembur
|
A. A.
Volume wadah
|
2,781 Liter
|
2,781 Liter
|
B. Berat wadah
|
2,676 kg
|
2,676 kg
|
C. Berat wadah +
benda uji
|
6,76 kg
|
6,16 kg
|
D. Berat benda uji
(C – B)
|
4,084 kg
|
3,484 kg
|
Berat Volume
|
1,469 kg/Liter
|
1,253 kg/Liter
|
Berat Volume
Rata-rata
|
||
Kondisi Padat =
|
||
Kondisi Gembur =
|
||
Analisis
Berdasarkan data pemeriksaan
agregat, diperoleh bahwa agregat padat memiliki berat volume yang lebih besar
dibandingkan dengan agregat yang gembur. Hal ini terjadi karena adanya
perbedaan prilaku antara agregat padat dan gembur, pada agregat yang dipadatkan
diberikan tumbukan sebanyak 25 kali dengan menggunakan mistar pada setiap 1/3
lapisan agregat, penumbukan ini menyebabkan jarak antara agregat semakin rapat
dan celah antar agregat berkurang sehingga lebih banyak partikel agregat yang
memenuhi wadah, maka dengan volume wadah yang sama agregat yang dipadatkan akan
memiliki berat jenis yang lebih besar dibandingkan dengan agregat gembur yang
tidak diberikan perlakuan khusus apapun.
Analisis Specific Gravity dan Penyerapan
Agregat Halus
Tujuan
1.
Menentukan angka specific gravity agregat
halus.
2.
Menentukan nilai bulk specific gravity
agregat halus.
3.
Menentukan nilai bulk specific gravity
agregat halus SSD.
4.
Menentukan prosentase absorpsi agregat halus.
Alat dan Bahan
Alat:
- Timbangan dengan ketelitian 0,1
gram atau kurang yang mempunyai kapasitas minimum sebesar 1000 gram atau
lebih
- Piknometer dengan kapasitas 500
gram
- Cetakan kerucut pasir
- Tongkat pemadat dari logam
untuk cetakan kerucut pasir
Benda
Uji:
Berat contoh agregat halus sebanyak 1000
gram. Contoh diperoleh dari bahan yang diproses melalui alat pemisah atau
perempatan
Prosedur Percobaan
1.
Agregat halus yang jenuh air dikeringkan
sampai diperoleh kondisi kering dengan indikasi contoh tercurah dengan baik
2.
Sebagian dari contoh dimasukan ke dalam metal
sand cone mold. Benda uji dipadatkan dengan tongkat pemadat (tamper). Jumlah
tumbukan adalah sebanyak 25 kali. Kondisi SSD diperoleh, jika cetakan diangkat,
butir-butir pasir longsor/runtuh
3.
Contoh agregat halus sebesar 500 gram dimasukan
ke dalam piknometer. Kemudian piknometer diisi dengan air sampai 90% penuh.
Bebaskan gelembung – gelembung udara dengan menggoyang-goyangkan piknometer,
redamlah piknometer dengan suhu air (73,4 ± 3) °F selama 24 jam. Timbang berat
piknometer yang berisi contoh dengan air.
4.
Timbanglah berat piknometer yang berisi air
sesuai dengan kapasitas kalibrasi pada temperatur (73,4 ± 3) °F dengan
ketelitian 0,1 gram.
5.
Hasil Pengamatan dan Perhitungan
Observasi
I
|
||
A.
Berat Piknometer
|
170
gr
|
|
B
.Berat Contoh Kondisi SSD
|
500
gr
|
|
C.
Berat Piknometer + air + contoh SSD
|
965
gr
|
|
D.
Berat Piknometer + air
|
668
gr
|
|
E.
Berat Contoh Kering (wadah 146 gr)
|
454
gr
|
|
Apparent
Specific Gravity
|
E/(E+D-C)
|
1,879
|
Bulk
S.G. Kondisi kering
|
E/(B+D-C)
|
3,13
|
Bulk
S.G. Kondisi SSD
|
B/(B+D-C)
|
2,46
|
Persentase
Absorpsi
|
(B-E)/E
x 100%
|
10,13%
|
Observasi
II
|
||
A.
Berat Piknometer
|
171 gr
|
|
B
.Berat Contoh Kondisi SSD
|
500 gr
|
|
C.
Berat Piknometer + air + contoh SSD
|
954 gr
|
|
D.
Berat Piknometer + air
|
669 gr
|
|
E.
Berat Contoh Kering
|
456 gr
|
|
Apparent
Specific Gravity
|
E/(E+D-C)
|
2,67
|
Bulk
S.G. Kondisi kering
|
E/(B+D-C)
|
2,12
|
Bulk
S.G. Kondisi SSD
|
B/(B+D-C)
|
2,33
|
Persentase
Absorpsi
|
(B-E)/E
x 100%
|
9,65 %
|
Rata-Rata
|
||
Apparent
Specific Gravity
|
2,27
|
|
Bulk
S.G. Kondisi kering
|
2,625
|
|
Bulk
S.G. Kondisi SSD
|
2,395
|
|
Persentase
Absorpsi
|
9,89 %
|
|
Analisis
Dengan mengambil nilai rata-rata dari kedua pengamatan, didapat nilai
bulk specific gravity/ berat jenis saat SSD (saat di mana celah di dalam
agregat telah terisi air secara jenuh namun kering di permukaan) sebesar 2,33.
Nilai ini menunjukkan perbandingan antara berat
agregat kering permukaan jenuh dan berat air suling yang isinya sama dengan isi
agregat dalam keadaan jenuh pada suhu tertentu yang kemudian dipakai dalam
perhitungan mix design untuk menentukan volume agregat kasar.
3.3.6
Kesimpulan
1. Apparent
Specific Gravity = 2,27
2. Bulk
S.G. Kondisi kering = 2,625
3. Bulk
S.G. Kondisi SSD = 2,395
4. Persentase
Absorpsi = 9,89
%
Analisis
Specific Gravity dan Penyerapan Agregat Kasar
Tujuan
1. Menentukan
specific gravity agregat kasar.
2. Menentukan
nilai bulk specific gravity agregat kasar.
3. Menentukan
nilai bulk specific gravity SSD agregat kasar.
4. Menentukan
prosentase absorpsi agregat kasar
Alat dan Bahan
Alat:
1.
Timbangan dengan ketelitian 0,5 gram yang
mempunyai kapasitas 5 kg
2.
Keranjang besi diameter 203,2 mm (8”) dan
tinggi 63,5 mm (2,5”)
3.
Alat penggantung keranjang
4.
Handuk atau kain pel
Benda
Uji:
Berat
contoh agregat disiapkan sebanyak 11 liter dalam keadaan kering muka (SSD =
Surface Saturated Dry). Contoh diperoleh dari bahan yang diproses melalui alat
pemisah atau cara perempatan. Butiran agregat lolos saringan No. 4 tidak dapat
digunakan sebagai benda uji.
3.4.3 Prosedur Percobaan:
1)
Benda uji direndam selama 24 jam
2)
Benda uji dikeringkan permukaannya (kondisi
SSD) dengan menggunakan handuk pada butiran
3)
Timbang contoh. Hitung berat kondisi SSD = A
4)
Contoh benda uji dimasukan ke keranjang dan
direndam kembali di dalam air. Temperatur air dijaga (73,4 ± 3) °F, dan
kemudian ditimbang, setelah di keranjang digoyang-goyangkan di dalam air untuk
melepaskan udara yang terperangkap. Hitung berat contoh kondisi jenuh =B
5)
Contoh dikeringkan pada temperatur (212 –
130) °F. Setelah didinginkan kemudian ditimbang. Hitung berat contoh kondisi
kering = C
6)
Hasil Pengamatan dan Perhitungan
Observasi
I
|
||
A. Berat contoh SSD
|
2500
gr
|
|
B. Berat contoh dalam air
|
1485
gr
|
|
C. Berat contoh kering udara
|
2379
gr
|
|
Apparent
Specific Gravity
|
C/(C-B)
|
2.66
|
Bulk
S.G. Kondisi Kering
|
C/(A-B)
|
2.34
|
Bulk
S.G. Kondisi SSD
|
A/(A-B)
|
2.46
|
Prosentase
absorpsi air
|
(A-C)/C
x 100%
|
5.08
%
|
Observasi
II
|
||
A. Berat contoh SSD
|
3000 gr
|
|
B. Berat contoh dalam air
|
1904 gr
|
|
C. Berat contoh kering udara
|
2945 gr
|
|
Apparent
Specific Gravity
|
C/(C-B)
|
2.829
|
Bulk
S.G. Kondisi Kering
|
C/(A-B)
|
2.687
|
Bulk
S.G. Kondisi SSD
|
A/(A-B)
|
2.7372
|
Prosentase
absorpsi air
|
(A-C)/C
x 100%
|
1.8675 %
|
Rata-Rata
|
||
Apparent
Specific Gravity
|
C/(C-B)
|
2.7445
|
Bulk
S.G. Kondisi Kering
|
C/(A-B)
|
2.5153
|
Bulk
S.G. Kondisi SSD
|
A/(A-B)
|
2.5986
|
Prosentase
absorpsi air
|
(A-C)/C
x 100%
|
3.47
%
|
Analisis
Dengan mengambil nilai rata-rata dari kedua pengamatan, didapat nilai
bulk specific gravity/ berat jenis saat SSD (saat di mana celah di dalam
agregat telah terisi air secara jenuh namun kering di permukaan) sebesar
2.8956. Nilai ini menunjukkan perbandingan
antara berat agregat kering permukaan jenuh dan berat air suling yang isinya
sama dengan isi agregat dalam keadaan jenuh pada suhu tertentu yang kemudian
dipakai dalam perhitungan mix design untuk menentukan volume agregat halus.
3.4.6
Kesimpulan
1) Apparent
Specific Gravity = 2.7445
2) Bulk
S.G. Kondisi kering = 2.5153
3) Bulk
S.G. Kondisi SSD = 2.5986
4) Persentase
Absorpsi = 3.47 %
Analisis Saringan Agregat Halus
Tujuan Percobaan
Menentukan distribusi ukuran partikel dari agregat
halus
Alat dan Bahan
Alat:
1. Timbangan
dan neraca ketelitian 0,2%
2. Satu
set saringan
3. Oven
(110 ± 5)°C
4. Alat
pemisah (spliter)sample
5. Talam
Gambar
Saringan Agregat Halus.
Bahan:
Benda uji diperoleh dari alat pemisah contoh atau dengan
cara penempatan. Berat dari contoh disesuaikan dengan ukuran maksimum diameter
agregat halus
yang
digunakan pada tabel perangkat saringan.
Gambar Timbangan, Neraca, dan 500g Agregat Halus.
Prosedur Pemeriksaan
1. Keringkan
sampel agregat.
2. Timbang
beban agregat.
3. Persiapkan
saringan yang akan digunakan.
4. Goyangkan
saringan dengan tangan disaat agregat dituang ke saringan.
5. Hitung
berat agregat yang tertahan pada masing-masing saringan.
6. Catat
berat yang tertahan.
Perhitungan
Tabel Analisis Saringan Agregat
Halus
Diameter
Saringan (mm)
|
Berat
Tertahan (g)
|
Persentase
Tertahan
|
Berat
Tertahan Kumulatif (g)
|
Persentase
Tertahan Kumulatif %
|
Persentase
Lolos Kumulatif
|
SPEC
ASTM C33-90
|
9.5
|
0
|
0
|
0
|
0
|
100
|
100
|
4.75
|
0
|
0
|
0
|
0
|
100
|
95-100
|
2.36
|
73
|
14.7
|
73
|
15
|
85
|
80-100
|
1.18
|
111
|
22.4
|
184
|
37
|
63
|
50-85
|
0.6
|
101
|
20.4
|
285
|
58
|
42
|
25-60
|
0.3
|
75
|
15.2
|
360
|
73
|
27
|
10-30
|
0.15
|
83
|
16.8
|
443
|
89
|
11
|
2-10
|
0.075
|
35
|
7.1
|
478
|
97
|
3
|
|
PAN
|
17
|
3.4
|
495
|
100
|
0
|
|
Modulus Kehalusan : 3,68
|
||||||
Analisis saringan dilakukan dengan tujuan
untuk menentukan apakah agregat halus tersebut layak atau tidak untuk
digunakan. Berdasarkan grafik analisis saringan agregat halus didapatkan hasil
bahwa sebagian besar agregat halus berada diantara batas atas dan batas bawah
standar ASTM C33-90 sehingga secara keseluruhan agregat halus layak
untuk digunakan.
Tujuan Percobaan
Menentukan distribusi ukuran
partikel dari agregat kasar
Alat dan Bahan
Alat:
1. Timbangan
dan neraca ketelitian 0,1%
2. Satu
set saringan
3. Oven
4. Alat
pemisah
5. Talam
Gambar Saringan Agregat Kasar.
Bahan:
Benda uji diperoleh dari alat pemisah contoh atau dengan
cara penempatan. Berat dari contoh disesuaikan dengan ukuran maksimum diameter
agregat kasar yang digunakan pada tabel perangkat saringan.
Gambar Timbangan, Neraca, dan 2500g Agregat Kasar.
Prosedur Percobaan
1.
Keringkan sampel agregat.
2.
Timbang beban agregat.
3.
Persiapkan saringan yang akan digunakan.
4.
Goyangkan saringan dengan tangan disaat
agregat dituang ke saringan.
5.
Hitung berat agregat yang tertahan pada
masing-masing saringan.
6.
Catat berat yang tertahan.
Perhitungan
Tabel
Analisis Saringan
Agregat Kasar
Diameter Saringan (mm)
|
Berat Tertahan (g)
|
Persentase Tertahan
|
Berat Tertahan Kumulatif (g)
|
Persentase Tertahan Kumulatif %
|
Persentase Lolos Kumulatif
|
SPEC ASTM C33-90
|
25.00
|
0
|
0
|
0
|
0
|
100
|
100
|
19.00
|
482
|
19
|
482
|
19
|
81
|
90-100
|
9.50
|
1845
|
74
|
2327
|
93
|
7
|
20-55
|
4,75
|
170
|
7
|
2497
|
100
|
0
|
0-10
|
2,38
|
0
|
0
|
2497
|
100
|
0
|
0-5
|
Modulus
Kehalusan : 3.12
|
||||||
3.6.5
Analisis Data
Analisis saringan dilakukan dengan tujuan
untuk menentukan apakah agregat kasar layak atau tidak untuk
digunakan. Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan
didapatkan hasil pada grafik analisis saringan agregat kasar berada diluar
batas atas dan batas bawah standar ASTM C33-90 sehingga agregat kasar tidak
layak untuk digunakan.
Kondisi tidak ideal ini dapat terjadi karena
ada banyak kemungkinan error yang terjadi terutama saat teknis menyaring
(mengguncang) yang kurang intens dan merata, kemudian karena ada agregat yang
seharusnya lolos, tetapi menjadi tidak lolos karena tertutup dengan agregat
kasar lainnya. Untuk mendapatkan kondisi ideal, yang harus dilakukan adalah
pada pengguncangan atau penyaringan, yaitu kegiatan penyaringan harus dilakukan
dengan merata dan dengan tepat.
Pemeriksaaan Kadar Lumpur
Tujuan Percobaan
Menentukan besarnya persentase kadar lumpur dalam agregat
halus yang digunakan sebagai campuran beton.
Alat dan Bahan
Alat
1. Gelas Ukur
2. Alat Pengaduk
| ||||
Bahan
Sampel agregat halus secukupnya dalam kondisi lapangan dengan bahan pelarut
biasa.
Prosedur Pemeriksaan
1.
Contoh benda uji
dimasukkan kedalam gelas ukurTambahkan air pada gelas ukur gunamelarutkan
Lumpur
2.
Gelas ukur dikocok
untuk mencuci agregat halus dari lumpur
3.
Simpan gelas pada
tempat yang datar dan dibiarkan lumpur mengendap setelah 24 jam
4.
Ukur tinggi lumpur (V2)
dan tinggi pasir (V1)
Perhitungan
Tinggi total
: 188 mm
Tinggi lumpur : 6 mm
Analisis Data
Berdasarkan hasil
percobaan kadar lumpur dalam agregat halus adalah 3.19%. Artinya agregat ini
baik bagi mix design beton. Karena
syarat untuk dapat menghasilkan beton yang baik adalah kadar lumpur <5%.
Tujuan Percobaan
Kadar organik adalah bahan- bahan yang terdapat
didalam pasir dan menimbulkan efek kerugian terhadap suatu mortar atau beton. Pemeriksaan
zat organik pada agregat halus dimaksudkan untuk menentukan adanya bahan
organik dalam agregat halus yang akan digunakan pada campuran beton. Kandungan
bahan organik yang melebihi batas dapat mempengaruhi mutu beton yang
direncanakan.
Alat dan Bahan
Alat:
1. Botol gelas tidak berwarna dengan volume sekitar 350
mL yang mempunyai tutup Dari karet gabus atau lainnya yang tidak larut dalam
NaOH
2. Standard warna (Organik plate)
3. Larutan NaOH 3%
Bahan:
Contoh pasir dengan volume 115 mL
(1/3 volume botol)
Gambar Pasir didalam 1/3 botol untuk
menentukan kadar organik
Prosedur Percobaan
1. 115 mL pasir dimasukkan ke dalam botol tembus pandang
(kurang lebih 1/3 isi botol)
2. Larutan NaOH 3% ditambahkan. Setelah dikocok, isinya
harus mencapai kira-kira ¾ volume
Botol
Gambar Penambahan larutan NaOH
3. Botol tersebut ditutup dan dikocok hingga lumpur yang
menempel pada agregat Nampak
terpisah dan
dibiarkan selama 24 jam agar lumpur tersebut mengendap
4. Setelah 24 jam, warna cairan yang terlihat
dibandingkan dengan standar warna no.3 pada
organic plate (apakah lebih tua atau lebih muda)
Laporan Hasil Pengamatan
Warna air di atas pasir yang terdapat di dalam botol
berubah menjadi Berwarna Putih keruh. jika dibandingkan dengan organic
plate maka sesuai dengan warna No. 2 pada organic plate.
Gambar Warna air di atas pasir disesuaikan dengan organic plate
Analisis Data
Berdasarkan hasil pengamatan, diperoleh hasil
percobaan berupa warna larutan yang putih keruh (No. 2). Warna larutan
yang tidak menunjukkan warna hitam mengindikasikan bahwa pasir memiliki
kandungan bahan organik dalam batas wajar. Secara Kuantitatif batas wajar
yang diperbolehkan adalah warna No. 3 pada organic plate. Oleh
karena itu, dapat disimpulkan bahwa agregat mengandug zat organik dalam batas
wajar sehingga agregat layak digunakan untuk mix design.
















Komentar
Posting Komentar